Cukup Dengan Ikhlas Berkhidmah

Tidak ada komentar

         Beberapa waktu yang lalu, kami disempatkan untuk berbincang santai dengan salah satu pengajar senior pondok pesantren Darulullughah Wad Da'wah.

        Beliau adalah Ust Shofi bin Asnafi. beliau merupakan salah satu asatidzah yang mendapatkan kesempatan emas untuk bisa langsung berkhidmah (membantu) sang perintis dari pada pondok Dalwa, yaitu Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun.

         Sore itu, tepat dikediaman ust Hanif, kami banyak sekali mendapatkan ibrah sekaligus cerita-cerita menarik tentang chemistry atau hubungan antara ust Shofi dengan abuya Hasan. walaupun pada awalnya beliau sama sekali tidak ada keinginan untuk menceritakan hubungan beliau dengan Abuya. namun, mungkin sudah menjadi ketetapan dari Allah swt bahwa ust Shofi akan menceritakan cerita ini. 

        Sebelum beliau bercerita, beliau terfokuskan dengan tugas desertasi yang sedang beliau garap. tentu, dengan padatnya jadwal mengajar dan khidmah yang beliau jalani, pasti butuh akan adanya bantuan untuk menyelesaikanya. akhirnya salah satu dari kami ada yang bersedia untuk membantu menyelesaikan tugas desertasi yang sedang beliau emban. ditengah diskusi antara ust shofi dengan sufyan -salah satu teman yang membantu penyelesaian desertasi beliau-. ust hanif tiba-tiba saja membercandai kita dengan sebuah guyonan klasik yang membuat daya tawa kita meledak. sontak kedua simpul yang ada pada wajah ini tertarik, terbawa sense humor yang dilontarkan oleh ust hanif barusan.

        melihat senyum tertahan yang ada pada diriku, entah mengapa ust hanif tiba-tiba saja nyeletuk. "ini ustadz, namanya syafiq. MasyaAllah lagi proses menghafal Al-Quran. mohon doanya..." seketika itu pun raut wajahku langsung berubah.tak sama sekali menyangka beliau akan menyebut hal itu didepan ustadz senior layaknya Ust Shofi ini. raut mukapun berubah seketika, yang awalnya tertawa, kini menjadi tersipu malu. mungkin karena perkataan dari ust hanif yang terkesan sangat menyanjung diri ini. mungkin kalau diri ini punya sayap, sudah terbang jauh kelangit sana, untungnya saja tidak, jadi diri ini masih bisa mengontrol rasa malu-malu bahagia ini. 

        mendengar diriku yang sedang berproses dalam menghafal Al-Quran, ust shofi lantas menasehati agar selalu bisa untuk menjaga apa yang telah dihafal. karena kata beliau yang terpenting sesungguhnya bukan lah hafalan ayat Quran yang masuk kedalam otakmu, namun apa yang masuk dan mengarungi kedalam hatimu.    

        "Al-Quran itu ada untuk meraba dirimu dan hatimu. jadi usahakan semaksimal mungkin untuk selalu menempatkanya disini." ucap beliau sambil mengisyaratkan kedua tanganya kearah dada. 

        Disaat itulah, diri ini benar-benar tersentuh dan tertampar. sangat terbayang betapa banyak Ayat yang sudah aku hafal namun hanya ada dalam otak saja, tidak sampai menyentuh dasar hati. tidak heran rasanya jika aku tidak mendapatkan kelezatan dalam muroja'ah ayat-ayat yang  sudah aku hafal. mungkin yang ada hanyalah rasa malas yang selalu menyelimuti. jika bukan karena tuntutan, mungkin sudah tidak ada lagi kata muroja'ah dalam kamus hidupku.

           kemudian ust shofi melanjutkan perkataanya. beliau bercerita tentang keinginan beliau dalam menghafal Ayat suci Al-Quran dimasa mudanya, namun tatkala meminta izin kepada abuya hasan, abuya hasan berkata "sudahlah yaa shofi, kamu cukup dengan ikhlas berkhidmah lilllah ta'ala." akhirnya beliau hanya bisa sam'an wa to'an kepada abuya hasan. dan karena taat itulah, banyak sekali sir atau rahasia-rahasia yang beliau dapatkan selama hidup yang beliau jalani ini. mungkin ini adalah salah satu bentuk barokah dari sang guru. 

        diwaktu yang sama, beliau melanjutkan ceritanya. bahwa, pernah suatu ketika tatkala abuya hasan sedang menelefon anak beliau Al-Habib Segaf bin Hasan baharun, abuya hasan menyuruh ust shofi untuk berdialog dengan habib segaf. dalam percakapan tersebut, habib segaf memberikan kesempatan kepada ust shofi untuk meminta apa saja yang ust shofi inginkan. karena bentuk sopan santun yang ada pada diri ust shofi, tentu beliau tidak meminta yang macam-macam, beliau hanya meminta untuk didoakan saja. namun habib segaf tetap memaksa, akhirnya beliau meminta gamis yang sering digunakan hb segaf dalam berkunjung kepusara Sang Baginda Nabi Muhammad SAW, dan hb segaf pun mengiyakanya. 

        dengan waktu yang singkat dengan matahari yang hendak kembali kemuaranya, kita banyak sekali mengambil pelajaran dari beliau. bagiamana sikap kita agar tetap rendah hati, tidak sombong, tidak menjatuhkan satu sama lain dan selalu membantu sesama. tidak terbayang bagaimana bahagianya beliau bisa membersamai guru mulia Abuya hasan bin ahmad baharun. 

        jika tabi'in adalah seserang yang mendapati sahabat Nabi pada masa hidupnya, maka begitu juga dengan kami, mendapati murid sekaligus sahabat dari pada Abuya Hasan bin Ahmad Baharun. semoga saja, curah deras keberkahan yang ada pada beliau dapat tertampung pada jiwa jiwa gersang seperti kami ini.

        "rabbighfirli waliwalidayya wa li abuya habib hasan bin ahmad baharun, war hamhum kama robbayana sighoro"

Komentar